Pages

..

....

Ads 468x60px

Rabu, 14 April 2010

SEJARAH BUDI UTOMO

BUDI UTOMO
Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.
Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Latar belakang
Budi Utomo lahir dari inspirasi yang dikemukakan oleh Wahidin Soedirohoesodo disaat beliau sedang berkeliling ke setiap sekolah untuk menyebarkan beasiswa, salah satunya STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen). Sejak saat itu, mahasiswa STOVIA mulai terbuka pikirannya dan mereka mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dan diskusi yang sering dilakukan di perpustakaan STOVIA oleh beberapa mahasiswa, antara lain Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, Goembrek, Saleh, dan Soeleman. Mereka memikirkan nasib bangsa yang sangat buruk dan selalu dianggap bodoh dan tidak bermartabat oleh bangsa lain (Belanda), serta bagaimana cara memperbaiki keadaan yang amat buruk dan tidak adil itu. Para pejabat pangreh praja (sekarang pamong praja) kebanyakan hanya memikirkan kepentingan sendiri dan jabatan. Dalam praktik mereka pun tampak menindas rakyat dan bangsa sendiri, misalnya dengan menarik pajak sebanyak-banyaknya untuk menyenangkan hati atasan dan para penguasa Belanda.Para pemuda mahasiswa itu juga menyadari bahwa mereka membutuhkan sebuah organisasi untuk mewadahi mereka, seperti halnya golongan-golongan lain yang mendirikan perkumpulan hanya untuk golongan mereka seperti Tiong Hoa Hwee Koan untuk orang Tionghoa dan Indische Bond untuk orang Indo-Belanda. Pemerintah Hindia Belanda jelas juga tidak bisa diharapkan mau menolong dan memperbaiki nasib rakyat kecil kaum pribumi, bahkan sebaliknya, merekalah yang selama ini menyengsarakan kaum pribumi dengan mengeluarkan peraturan-peraturan yang sangat merugikan rakyat kecil.
Para pemuda itu akhirnya berkesimpulan bahwa merekalah yang harus mengambil prakarsa menolong rakyatnya sendiri. Pada waktu itulah muncul gagasan Soetomo untuk mendirikan sebuah perkumpulan yang akan mempersatukan semua orang Jawa, Sunda, dan Madura yang diharapkan bisa dan bersedia memikirkan serta memperbaiki nasib bangsanya. Perkumpulan ini tidak bersifat eksklusif tetapi terbuka untuk siapa saja tanpa melihat kedudukan, kekayaan, atau pendidikannya.
Pada awalnya, para pemuda itu berjuang untuk penduduk yang tinggal di Pulau Jawa dan Madura, yang untuk mudahnya disebut saja suku bangsa Jawa. Mereka mengakui bahwa mereka belum mengetahui nasib, aspirasi, dan keinginan suku-suku bangsa lain di luar Pulau Jawa, terutama Sumatera, Sulawesi, dan Maluku. Apa yang diketahui adalah bahwa Belanda menguasai suatu wilayah yang disebut Hindia (Timur) Belanda (Nederlandsch Oost-Indie), tetapi sejarah penjajahan dan nasib suku-suku bangsa yang ada di wilayah itu bermacam-macam, begitu pula kebudayaannya. Dengan demikian, sekali lagi pada awalnya Budi Utomo memang memusatkan perhatiannya pada penduduk yang mendiami Pulau Jawa dan Madura saja karena, menurut anggapan para pemuda itu, penduduk Pulau Jawa dan Madura terikat oleh kebudayaan yang sama.
Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua"-lah yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.
Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.

PERKEMBANGAN
BUDI OTOMO
Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman.
Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota.
Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.






Budi Utomo, Budi Pekerti Mulia yang Utama



Salah satu faktor kehancuran sebuah bangsa disebabkan oleh moral rakyatnya yang tidak lagi mulia seperti yang pernah diajarkan oleh dr. Sutomo dan kawan-kawannya ketika mendirikan Budi Utomo pada 20 Mei 1908 di Stovia.

"Kehancuran bangsa ini diawali oleh budi pekerti dan moral yang tidak utama dan mulia. Budi Utomo mengajarkan budi pekerti sebagai yang mulia sebagai yang utama," kata Bambang Suprianto, cucu mantu salah satu pendiri Budi Utomo, dr. Suradji Tirtonegoro kepada GudegNet (14/05).

Menurut Bambang, saat ini khususnya generasi muda dan anak-anak tak lagi mengenal tokoh pendiri Budi Utomo. Yang mereka kenal hanyalah dr. Wahidin Sudirohusodo. Padahal, nama Budi Utomo sendiri diusulkan oleh dr. Suradji Tirtonegoro, dan anehnya banyak yang tidak mengenalnya.

"Saat ini, anak muda banyak yang tidak mengenal tokoh-tokoh pendiri Budi Utomo. Dr. Suradji Tirtonegoro, seorang yang mencetuskan nama Budi Utomo pun tidak dikenalnya. Bagaimana mungkin mereka dapat mengetahui ajarannya kalau kenal saja tidak," kata Bambang.

Bambang Suprianto adalah salah satu dari keluarga pendiri Budi Utomo yang 18 Mei nanti akan berziarah ke makam-makam para tokoh Budi Utomo seperti dr. Soeradji Tirtonegoro, dr. Wahidin Sudirohusodo, dr. Rajiman Wedyodiningrat (Mlati), dr. M. Soelaiman (Purworejo), dr. RAA Tirtokusumo (Karanganyar), dr. Goembrek (Dawuhan), dr. Angka (Kabutuh), dr. Gunawan Mangunkusumo serta dr. Cipto Mangunkusumo (Ambarawa).
Budi Utomo: Tonggak Kebangkitan Nasional. Benarkah?
Yusra Habib Abdul Gani

”Setiap manusia mempunyai kekuatan sejarah yang menyingkapkan masa lalunya. Sejarah telah mendudukkan kembali dalam ukuran yang lebih berat dan kokoh bagi yang bersangkutan dan beribu-ribu rahasia dari masa lalu terbit kembali dari lubuk yang tersembunyi dari cahaya matanya. Masih tidak ada sahabat yang tidak mengerti arti mimpi yang akan menjelma menjadi kenyataan sejarah satu saat nanti, karena terkadang masa lalu masih belum semua nampak. Banyak kekuatan yang agaknya belum kita ketahui” Feriderick Nietzche.
Berangkat dari sini orang melakukan koreksi, kritik dan evaluasi terhadap fakta sejarah yang banyak menimbun rahasia yang belum terungkap dalam penulisan sejarah suatu bangsa dan negara, terutama mengenai lahirnya Organisasi Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada tanggal 20. Mei 1908. Sesungguhnya, generasi sekarang mempunyai hak untuk menyingkap kembali masa lalu (kesejarahan) Indonesia dan secara jujur mesti berani menentukan sikap dan menilai: pantas atau tidak pantas diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Argumentasinya ialah: karena organisasi ini bersifat jawa centries, anti agama, tidak berjiwa nasionalisme, nyata-nyata mendukung penjajahan Belanda dan sama sekali tidak pernah mencita-citakan Indonesia merdeka. Tetapi para penulis sejarah telah berkomplot untuk menipu fakta sejarah Indonesia yang sesungguhnya.
Sejarah suatu bangsa adalah surat keramat negara, yang selain menyimpan dan menyematkan kisah-kisah yang paling indah dan agung dalam lembaran sejarahnya, juga menyimpan sejuta kepalsuan, dimana penguasa: memperkecilkan, meniadakan atau mengada-ada dan bahkan membesar-besarkan suatu peristiwa yang tidak pernah terjadi, dinyatakan terjadi dan apa yang dianggap “terjadi” tadi akan menjadi suatu kebenaran, untuk itu pakar sejarah diarahkan menulisnya. Akhirnya, sejarah yang falsu dianggap suatu kebenaran sejarah yang bersejarah. Dalam hubungan inilah, sikap kritis sungguh sangat diperlukan, agar tidak diklasifikasikan sebagai: “siapa saja yang mengikuti (red: mempercayai) sesuatu tanpa pengetahuan yang cukup, sama dengan orang jahiliyah.” Sayyid Quthb, “Tafsir Baru Atas Realitas”, tahun 1996.
Sebelum ini, oraganisasi Budi Utomo yang didirikan pada tgl. 20. Mei 1908 (Jakarta), atas prakarsa Soetomo dkk. (mahasiswa kedokteran STOVIA), dikatakan sebagai emrio dari kebangkitan nasionalisme Indonesia, motor penggerak perjuangan kesadaran politik berbangsa dan bernegara serta bercita-cita memerdekakan Indonesia. Benarkah? Sebab dalam realitasnya, dalam pertemuan terbatas yang diadakan oleh Budi Utomo di Jawa Tengah, hanya dihadiri oleh kalangan orang-orang Jawa saja (semua alumnus STOVIA (sekolah Kedokteran) asal Jawa Tengah-Timur, tanpa dihadiri oleh perwakilan orang Sunda (Jawa Barat), apalagi perwakilan dari luar pulau Jawa. Agenda pertemuan hanya membincang soal nasib masa depan politik orang Jawa dalam arena politik pemerintahan Hindia Belanda. Lebih tegas lagi; dalam pasal 2 Anggaran Dasar Budi Utomo disebut: “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis.”
Program organisasi ini hanya berorientasi dan memfokuskan kepada kemajuan masyarakat Jawa dan Madura. Tentang hal ini diurtarakan: “Tidak pernah sekali pun rapat Budi Utomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri, dan menjelek-jelekkan Islam yang dianggapnya sebagai batu sandungan bagi upaya mereka” KH. Firdaus AN. “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa” Selain itu, bahasa resmi yang digunakan dalam setiap pertemuan dan hubungan surat-menyurat (korespondensi), termasuk anggaran dasar organisasi ini ditulis dalam bahasa Belanda. Ini berarti Budi Utomo bersifat ke-Jawa-Madura-an (ethnocentries) dan sama sekali bukan kebangsaan.
Garis perjuangan Budi Utomo yang menggalang kerjasama dalam pemerintahan Hindia Belanda dan tidak pernah bermaksud untuk memperjuangan Kemerdekaan Indonesia, sebenarnya diilhami dan dibangun atas dasar perubahan politik yang sedang terjadi bergulir di Eropah, dari issue kolonialisme dan tindakan otoriter yang mengandalkan bahasa kekerasan kepada issu demokrasi. Para penasehat politik kolonial Belanda berpendapat bahwa: sudah saatnya dilaksanakan “politik ethis” bagi anak jajahan di wilayah “Netherlands East Indie” yang kemudian menjadi Indonesia. Dengan cara demikian, diharapkan akan mengurangi konflik vertikal antara Belanda dengan anak jajahannya. Itu sebabnya, kepada aktivis Budi Utomo yang sudah dicuci otaknya, diberi ruang untuk menyuarakan aspirasi politik dan diajak masuk ke dalam Volkstraad (Parlement).
Dari proses inilah, kemudian melahirkan beberapa partai politik seperti: PNI, PKI, Partindo, Gerindo, Patai Indonesia Raya (PIR) dll yang duduk dalam Volksraad Hindia Belanda. Namun demikian: “Budi Utomo tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia. Budi Utomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemedekaan, karena telah bubar pada tahun 1935. Budi Utomo adalah organisasi sempit, lokal dan etnis, di mana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang Betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya.” KH. Firdaus AN. “Syarikat Islam Bukan Budi Utomo: Meluruskan Sejarah Pergerakan Bangsa”
Pada gilirannya, ketika mereka menyadari bahwa organisasi ini tidak mampu lagi mempertahankan ediologinya untuk menghadapi sepak terjang dan perubahan politik yang terjadi di Hindia Belanda, maka organisasi ini sepakat untuk membubarkan diri tahun 1935. Para aktivis Budi Utomo kemudian, lebih memilih mengisolasi diri, tutup mulut daripada ikut berkifrah dalam pentas politik dalam skala nasioanl. Itu sebabnya, mereka tetap dalam keadaan selamat dan tidak seorangpun tokoh Budi Utomo yang dijebloskan penguasa Belanda atas alasan menentang kebijakan politik penguasa Hindia Belanda. Mereka memenjarakan diri dalam faham kerakyatan yang berciri feodal dan keningratan.
Sebelum ini, Budi Utomo yang untuk pertama sekali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda (priode tahun 1908-1911). Kemudian diteruskan oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda, dikatakan juga bersikap terbuka, toleran dan menghormati keberagaman agama. Tetapi dalam realitasnya: Noto Soeroto, salah seorang tokoh Budi Utomo, di dalam pidatonya tentang ”Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereniging” mengatakan: “Agama Islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya… Sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan. ” Contoh lain. Dalam sebuah artikel yang dimuat dalam “Suara Umum” (media massa milik Budi Utomo) di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, yang selanjutnya dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” berbunyi: “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah Ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (M. S) Al-Lisan nomor 24, 1938.
Hubungan budi utomo dengan SDI
hubungan antara aktivis Budi Utomo dan tokoh Serikat Dagang Islam (SDI), yang kemudian menjadi Serikat Islam (S.I) yang berdiri tahun 1902, sangat runcing; selain karena perbedaan falsafah dan tujuan oraganisasi; S.I menuduh Budi Utomo adalah organisasi anti agama, khususnya Islam. Tuduhan ini didasarkan kepada pernyataan-pernyataan aktivis Budi Utomo, apalagi Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar, dikenal pasti sebagai salah seorang anggota pengikut Freemasonry, yang aktif menjalankan missinya sejak tahun 1895 di Loge Mataram. Selain itu, Boediardjo, (Sekretaris Budi Utomo (tahun 1916), juga sebagai seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boediardjo. Dr. Th. Stevens. “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” [Buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.]
Dalam skala yang lebih melebar, di saat aktivis Budi Utomo bermain tali dengan tuannya (penguasa Hindia Belanda), situasi di Acheh (khususunya di Kuta Rèh, Tampèng dan Kuta Panjang dan Rikit, Gayo lues) baru beberapa bulan terjadi pembantaian biadab oleh serdadu Marsusé terhadap anak-anak, perempuan dan lelaki. Tepatnya pada tahun 1907. Demikian juga perjuangan Tjut Mutia dengan suaminya yang tengah gigih memimpin peperangan di Pasè, Tjut Meurah Gambang dengan suaminya tengah bertarung dalam beberapa siri peperangan di Pidië, Tengku Tapa sedang memimpin peperangan di Acheh Timur, Tjut Ali dan Tengku di Barat sedang memimpin perang di Acheh Barat-Selatan. Di den Haaq (Belanda), Parlemen Belanda mengadakan Sidang Istimewa Parlement tentang perkara Acheh: yang mengutuk kebiadaban serdadu Belanda di Acheh. Sebagaimana diturkan: ”Ketika saya berada di Aceh, saya sudah tahu apa yang terjadi. Dengan tidak ragu-ragu saya mengecam pembakaran seluruh kampung, pemotongan pohon-pohon yang menghasilkan buah-buahan, pembunuhan hewan ternak yang ditinggalkan. Seorang serdadu dengan kakinya menggulingkan mayat seorang pejuang Aceh sambil memeriksa saku baju mayat itu, kalau-kalau ada emas di dalamnya.” [Kesaksian (Testimony) Thomson, sewaktu Sidang Perdebatan Tentang Acheh dalam Parlemen Belanda, 5-7 November 1907.] Sementara itu, dalam setiap pertemuan organisasi Budi Utomo sama sekali tidak menyinggung prihal kebiadaban serdadu Belanda di Aceh.
kesimpulan
Semua fakta di atas membuktikan bahwa tidak ada hubungan emosional, ikatan persaudaraan, rasa senasib dan seperjuangan, apalagi kesadaran perjuangan nasional antara aktivis Budi Utomo dengan orang-orang di luar pulau Jawa; walaupun dalam hubungan tertentu, yakni: sejak berdirinya Serikat Dagang Islam (S.D.I) yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam (S.I) tahun 1902, antara orang Islam Jawa dengan Aceh sudah terjadi hubungan yang sifatnya non governmental.
Jadi, sangat naiv sekali kalau mengatakan: „Budi Utomo sebagai embrio dari kebangkitan nasional dan demokrasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia” Ini a-historis dan gambaran mengenai Budi Utomo adalah diantara penipuan sejarah yang paling memalukan dan menjengkelkan yang pernah dibuat manusia.
Nilai keteladanan yang dimiliki Budi Utomo adalah kepeloporannya yang pantang menyerah. Budi Utomo diakui menjadi organisasi perintis perjuangan kemerdekaan. Dalam menghadapi setiap tantangan apapun bentuknya, terutama tekanan dari pemerintah kolonial Belanda, Dr. Wahidin dan kawan-kawan tetap tegar. Tak kenal kata mundur. Berjuang gigih untuk mencapai cita-cita.
Keteladanan inilah yang penting untuk dimiliki segenap lapisan masyarakat dan bangsa Indonesia. Terlebih dalam menghadapi berbagai terpaan dan cobaan yang akhir-akhir ini sedang melanda negeri ini. Utamanya bagi para generasi muda sebagai generasi penerus perjuangan bangsa. Pembangunan Indonesia meliputi berbagai sektor kehidupan. Itu sebabnya jiwa kepeloporan harus dimiliki dan dilaksanakan pada setiap sektor kehidupan tersebut. Kaum muda perlu segera menghentikan ketergantungan pada orang lain dalam berbagai hal. Bahkan mereka selalu dituntut menjadi perintis dalam menciptakan lapangan kerja, bukan pencari kerja. Tinggalkan pikiran selalu mendambakan hidup dan tinggal di perkotaan. Tengok dan tumbuhkan semangat pengabdian kepada sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di pedesaan. Mereka menunggu uluran tangan, memerlukan tokoh yang bisa mengangkat mereka ke permukaan.


Sejarah budi utomo



Setiap 20 Mei, segenap bangsa Indonesa memperingati Hari Kebangkitan Nasional. Peringatan ini tidak dipisahkan dari Budi Utomo. Inilah organisasi pergerakan pertama yang lahir sembilan puluh delapan tahun yang lalu, tepatnya 20 Mei 1908. Tak lama setelah itu lahir pula pergerakan perjuangan lainnya,seperti Serikat Islam, Indiche Partij, Partai Nasional Indonesia dan lain sebagainya.
Sekitar tanggal 28 Desember 1908 Budi Utomo memperoleh pengakuan (rechts persoon) pemerintah Hindia Belanda. Walaupun ruang lingkup organisasi ini lebih menekankan terhadap kemajuan di Jawa dan Madura, namun mampu memberi ilham bagi tumbuhnya organisasi bumi putera lainnya. Inilah kiranya yang dapat dipandang sebagai bangunnya pergerakan bumiputera di Hindia Belanda. Dengan kata lain, timbul semangat dan tekad untuk maju dalam jiwa bumiputera.
Dengan pemahaman di atas wajarlah apabila para tokoh pendiri Budi Utomo dipandang sebagai, tokoh angkatan 08. Sebab, merekalah yang telah membaca nilai-nilai baru dalam kehidupan rakyat Hindia Belanda yang pada akhimya bermuara pada tercapainya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Memang harus pula diakui bahwa pada tahun-tahun berikutnya peranan Budi Utomo agak mengalami kemunduran. Ini disebabkan karena munculnya Serikat Islam yang lebih bersifat kerakyatan. Di samping itu para pengurus Budi Utomo kemudian lebih banyak berada di tangan golongan bangsawan dan pamong praja. Status yang dipegangnya itu membuat mereka lebih berhati-hati dalam menghadapi pemerintah Hindia Belanda. Meski demikian, upaya menanamkan rasa kebangsaan masih melekat pada Budi utomo.
Dari uraian di diatas jelas kiranya bahwa lahirnya Budi Utomo telah mempelopori timbulnya kesadaran rakyat Hindia Belanda akan nasibnya itu. Upaya memperbaiki nasibnya itu semakin keras dengan lahirnya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda yang menginginkan adanya Indonesia yang berbangsa, berbahasa dan bertanah air satu itu menegaskan pentingnya arti persatuan dan kesatuan. Dengan kedua puncak perjuangan itulah yang telah menyertai dicetuskannya kemerdekaan Indonesia. "Mata Rantai" itu mudah-mudahan tetap mengikat kita melalui pembangunan nasional yang kini semakin dipertegas oleh Orde Reformasi Pembangunan. Makna Peringatan Harkitnas.

Dua puluh Mei tahun ini, berarti Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) genap berusia sembilan puluh delapan tahun. Lama sudah semangat kebangkitan itu menyatu dengan perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia. Beberapa periode telah dilalui. Berbagai rintangan dan cobaan dialami. Namun sejarah membuktikan, kobaran bangsa dan negara Kesatuan Republik Indonesia pada keadaan seperti sekarang ini. Negara Indonesia mampu mensejajarkan diri dengan negara-negara lain. Disegani kawan maupun lawan. Kiprah pembangunan bergelora di segala penjuru nusantara.

Dari angkatan ke angkatan, generasi ke generasi, percikan api nasionalisme rintisan Budi Utomo mengkristal. Kesadaran terhadap pentingnya persatuan dan kesatuan demi kelangsungan perjuangan bangsa mengaliri pembuluh darah setiap rakyat Indonesia. Meskipun harus diakui, perjalanan panjang yang dilalui tidak selalu mulus. Terkadang harus bertemu dengan tikungan tajam dan jalan berkelok. Bahkan tidak jarang berhadapan dengan cadas terjal menghadang. Seperti halnya keadaaan yang sedang kita rasakan akhir-akhir ini misalnya, terkadang bisa membuat hati kita kecut. Kerusuhan melanda di berbagai tempat secara silih berganti. Penjarahan, ancaman, pemerkosaan, tindak kriminal dan perbuatan. Itu sebabnya peringatan Harkitnas kali ini menjadi lebih bermakna bagi segenap bangsa Indonesia untuk berinstropeksi. Kesadaran berbangsa adalah senjata ampuh untuk menghancurkan tindak kekerasan tadi. Rasa berbangsa dan bernegara ini harus lebih dipacu lagi.
Berdirinya perkumpulan Budi Utomo tak ubahnya ibarat kunci pembuka perjuangan kemerdekaan. Budi Utomo adalah organisasi yang ditata secara rasional. Rasionalitas ini membuat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tak pernah basi.
Nilai-nilai luhur terutama kesadaran berbangsa dan semangat persatuan tetap dijunjung tinggi dan dijadikan modal. Bahkan sebagai pemberi ilham bagi rangkaian perjuangan selanjutnya. Angkatan 08, angkatan 28, angkatan 66 hingga generasi muda yang hidup di alam reformasi ini secara sambung menyambung mengambil makna Harkitnas untuk meneruskan perjuangan menegakkan negara dan tanah air Indonesia. Sungguh merupakan nilai yang tak pernah dan tak akan luntur dimakan waktu.
1. Budi Utomo (BU) 20 Mai 1908
Politik etis awal abad ke-20 membawa dampak munculnya "priyayi jawa baru" atau priyayi rendahan, mereka memiliki pandangan bahwa pendidikan adalah kunci kemajuan. Dilatar belakangi situasi ekonomi yang buruk di pulau Jawa karena eksploitasi penjajah Belanda, menyebabkan banyak anak priyayi rendahan yang pandai tapi tidak dapat meneruskan sekolah karena tidak ada biaya.
Sang priyayi baru, Dr Wahidin Sudirohusodo berusaha mencari dana untuk memberi bantuan kepada anak-anak yang tidak dapat sekolah. Propagandanya disambut antara lain oleh salah seorang mahasiswa kedokteran sekolah Dokter Jawa, School Taf Opleiding Van Indische Arsten (Stovia) yaitu Sutomo.

Tujuan Budi Utomo adalah melakukan pengajaran bagi orang Jawa dan berusaha untuk membangkitkan kembali budaya Jawa, Jadi pendidikan barat dipadukan dengan tradisi dan budaya Jawa. Tentu saja berdirinya Budi Utomo ini menimbulkan banyak reaksi baik dari orang Belanda maupun kaum priyayi Jawa. Pernah mendengar istilah kaum priyayi? Priyayi adalah sebutan untuk orangorang Jawa keturunan bangsawan. Lalu apa saja reaksinya?. Ada yang berpendapat bahwa kelahiran Budi Utomo merupakan renaissance atau kebangkitan budayan Jawa. Kaum priyayi menolak kehadiran Budi Utomo, Mengapa demikian? Karena kelahiran dan cita-cita Budi Utomo dianggap mengganggu kestrabilan kedudukan sosial mereka. Mereka merasa terancam posisinya oleh gerakan anak muda tersebut.
Untuk mencegah cita-cita Budi Utomo tersebut mereka mendirikan regent Bond Setia Mulya di Semarang, tapi ada pula kaum priyayi yang progresif seperti bupati Karang Anyar yang bernama Tirto Kusumo yang mendukung Budi Utomo. Lalu bagamana perkembangan Budi Utomo selanjutnya? Walaupun tujuan Budi Utomo masih samar-samar yaitu kemajuan bagi Hindia, tetapmenarik perhatian masyarakat, hanya dalam waktu enam bulan jumlah anggota Budi Utomo sudah mencapai ribuan orang dan cabang-cabangnya tersebar di kota-kota besar pulau Jawa tapi anggota Budi Utomo terbatas hanya dari suku Jawa dan Madura. Dalam waktu satu tahun Budi Utomo berhasil menarik 10.000 anggaran yang berasal dari 40 cabang, seperti Yogyakarta, Madura, Bandung, Surabaya, Jakarta, dll.
Untuk konsolidasi organisasi pada tanggal 3 - 5 Oktober 1908 Budi Utomo menyelenggarakan kongres yang pertama di Yogyakarta yang menghasilkan keputusan yaitu:
a. Memajukan pendidikan dan pengajaran c. menggali kembali kebudayaan bangsa & ilmu pengetahuan
b. Mempertinggi cita-cita kemanusiaan

FOTO & SEJARAH BUDI UTOMO



BUDI UTOMO drs.sutomo

Gedung rapat universitas budi utomo

Peringatan hari Rapat budi utomo
kebangkitan

Kongres Pertama Budi
utomo PERGERAKAN Kongres Pertama Budi
425 x 247 - 19k - jpg
swaramuslim.com

pendiri Budi
247 x 271 - 40k - jpg
kaskus.us

Sebab kebangkitan
288 x 167 - 25k - jpg
serbasejarah...

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Popular Posts

Search This Blog

Memuat...

^_^

Ada kesalahan di dalam gadget ini